Thursday, July 14, 2016

Di Atas Ranah Tiada Asa


Hidup adalah sebuah perjalanan, perjalanan mengenal Allah kembali. Semoga kelak, telah menjadi kekasih sebelum datang kematian. 


Dibalik tempurung
Seekor katak duduk termenung
Tak tau akan langit yang mendung
Ataupun ombak yang kian menggulung
Tetap tersanjung meski terkurung
Adalah ia seorang pemuda
Di atas ranah tiada asa
Mata sendu beribu makna
Terpendam di sana
Seribu tanda tanya
Oh…kasihan
Ia yang miskin pengalaman
Menapak jalan tanpa tujuan
Juga di sana
Diatas ranah tiada asa
Meski lama menatap angkasa
Tetap tak tahu akan tanya
Yang terlukis diwajahnya
Kini…ia merunduk menatap tanah
Berharap cahaya meski secercah
Sampai matanya terpana
Melihat tempurung
Sembunyikan ia yang terselubung
Ia…
Katak di balik tempurung
Sekarang terbebas
Menatap langit tak lagi gelap
Biru luas penuh harap
Sedangkan pemuda itu
Pergi berlalu
Dengan seribu jawab
Akan tanya yang tak terucap
Dalam sanubari yang tetap gelap
tetap di sana
di atas ranah tiada asa

Gorontalo, 13 September 2011 


Special thanks to Umi Atik Hikmiyati (semoga umi dan keluarga selalu dalam limpahan kasih dan sayangNya).


Setiap hal ada kisahnya, termasuk ini. Lewat perantara tugas dari beliaulah puisi ini lahir, di 15 menit terakhir, setelah berkeluh kesah, dengan tergesa gesa, sekitar 5 tahun lalu. Umi, mohon doanya agar kami bisa menjadi manusia-manusia yang bertaqwa dan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia. Mohon doanya juga agar kami bisa melalui jalan bercabang dunia ini yang penuh dengan rambu-rambu palsu menyesatkan.

No comments:

Post a Comment