Siapapun yang merasakan ini, percayalah kita tidak akan dikecewakan. Penantian kita akan sampai pada masanya. Kalaupun yang terjadi tidak demikian, tetap berbahagialah karena kita telah terhindar dari sebuah sebab penyesalan.
Dalam diam indahnya cinta, bisikan jiwa memandu raga
Untukmu ku haturkan doa,
di akhir kehidupan kita bersama
Dari kejauhan terangkai kenangan
Merajut kata tentang keindahan
Dalam hati sebuah kerinduan
Doa padaNya demi sekali lagi pertemuan
Duhai purnama,
telah ku baca bait cinta para pujangga
Juga cerita hidup para pengembara
Pada angin ku titipkan,
kisah maaf seorang pemuda
Tentang bahasa sebuah peristiwa
Suatu pagi beberapa hari lalu, aku berbicang dengan mentari
Tentang dirimu duhai bidadari
Kataku padanya untuk menyerah diri
Katanya padaku tetap di sini,
tetap setia menjaga hati
Meski bidadari tiada tahu isi hati
tetaplah bertahan meski sendiri
Hingga nanti
ketika segala rasa nyata terbukti
Tentang kebenaran takdir Ilahi
Sebuah cinta kan temukan jalannya
Sepanjang jalan terserak duri
Kian menumpuk derita hati
Dipersimpangan begitu indahnya
Merayu diri melangkah padanya
Namun apalah dayaku
Senyummu telah memenjara kalbu, mata indah itu juga jilbab biru
Sungguh,
sakit tertusuk ribuan duri lebih mudah berlalu
Ketimbang aku kehilangan dirimu
Karenanya,
aku lebih memilih untuk menyerah
Menyerah pada ruang, menyerah pada waktu
Kini,
hanyalah padaNya hati bertumpu
Padamu aku menyemai rindu
Untaian doa dari dalam kalbu
Bait cinta untukNya juga untukmu
Kini,
apalah aku tanpaMu
Malanglah aku tanpa hadirMu
Sepanjang jalan mencumbui rindu
Bogor, 24 Oktober 2015
Pada akhirnya aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri, siapa aku berani menetapkan takdir kita berdua... Engkau dengan takdirmu sebagaimana aku telah ditetapkan dengan takdirku. Benarlah kiranya yang mengatakan bahwa manusia tidak bisa merancang masa depan, ia hanya bisa mengira ngira tanpa mengetahui dengan pasti faktanya. Tapi apakah seperti itu..?. lantas apa artinya usaha yang dilakukan demi mewujudkan segala mimpi? dan ketika mimpi itu nyatanya mewujud?... Betapapun, apapun itu, aku bersyukur kepadaNya. Tidak ada kebetulan terjadi diluar kerangka kehendakNya, termasuk antara aku dan kamu. Dan untukmu, beribu terima kasih atas nasehat waktu itu sehingga aku lebih bisa bertanya ke dalam diri, tentang siapa aku dan untuk apa aku melakukan semua ini, untuk Siapa? untukmu kah atau... hingga semua nyata terjadi, biarlah aku berada pada baris terakhir puisi di atas. Duhai adinda, doaku untukmu, semoga engkau selalu berada dalam limpahan kasih dan sayangnya.